Sabtu, 24 Desember 2016

ORANG YANG DIDOAKAN MALAIKAT


Regular Pentagon: 1
ORANG- ORANG YANG DIDO’AKAN
OLEH MALAIKAT

Mengimani malaikat adalah salah satu dari rukun iman yang eman. Di antara berbagai peran malaikat yang istimewa adalah memberikan syafa’at kepada orang-orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohonkan ampun bagi orang-orang mu’min.
Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiyaa’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (٢٦) لا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ (٢٧) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ (٢٨)
“Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (Q.S. Al-Anbiyaa’: 26-28)
Orang yang dido’akan oleh para malaikat adalah orang- orang yang melakukan amalan yang baik yang diridhai Allah SWT, antara lain:

1.      Orang yang tidur dalam keadaan bersuci

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2.      Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat
أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ."
“Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Imam Muslim dariAbu Hurairah, Shahih Muslim 469).

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ الصَّفِّ الْاَوَّلِ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan.” (Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib)

4. Orang yang menyambung shaf shalat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf)
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu berselawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah)



 


5. Para malaikat mengucapkan ‘aamiin‘ ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah
إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا جَلَسَ فِيْ مُصَلاَّهُ بَعْدَ الصَّلاَةِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ، وَصَلاَتُهُمْ عَلَيْهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَإِنْ جَلَسَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ وَصَلاَتُهُمْ عَلَيْهِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.
‘Sesungguhnya jika seorang hamba duduk di masjid setelah melaksanakan shalat, maka para Malaikat akan bershalawat untuknya, dan shalawat mereka kepadanya adalah dengan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’ Jika ia duduk untuk menunggu shalat, maka para Malaikat akan bershalawat kepadanya, shalawat mereka kepadanya adalah dengan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’ (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan shalat Shubuh dan Ashar secara berjamaah
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
“Para malaikat malam dan malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat subuh dan ashar. Kemudian malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah Ta’ala bertanya kepada mereka -dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para hamba-Nya)-, “Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).'” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari1442 dan Shahih Muslim 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur
Regular Pentagon: 2
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.
‘Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.’” (HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit
إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.
Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain
«إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”.” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahily)


                                                                                                Jakarta, 07 Februari 2016
Pengajian Ahad Pagi
MT Kaum Ibu Masjid Nurul Iman
Kementerian Pertanian


Regular Pentagon: 3

MEMBANGUN KESHALEHAN SOSIAL



Pesan Iedul Fitri;
MEMBANGUN KESHALEHAN SOSIAL

Iedul Fitri sudah berlalu. Tapi pesan dari Iedul Fitri tidak boleh ikut berlalu bersamaan dengan berlalunya Iedul Fitri. Salah satu pesan dari iedul fitri adalah bahwa kita harus menjalin dan membangun persaudaraan dengan sesama. Islam menegaskan bahwa hubungan manusia dengan sesama sangat erat kaitannya dengan keselamatan dan kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Maka pesan dari Iedul Fitri hendaklah kita membangun keshalehan sosial.
Ketika berkumpul dengan para shahabat, Rasulullah SAW melemparkan satu pertanyaan yang sangat menggelitik: Tahukan kalian tentang orang yang bangkrut ? “ Sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya perhiasan” Nabi SAW bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang datang menghadap Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, tapi juga membawa dosa karena menuduh orang, memakan harta tanpa hak, mengadiaya orang lain dan menumpahkan darah. Akhirnya diserahkan kebaikannya kepada orang yang dianiaya. Pada saat kebaikannya sudah habis, maka diserahkannya keburukan orang lain kepadanya. Maka dilemparkannya jauh ke tengah- tengah api neraka.
Gambaran di atas adalah manusia yang hanya baik dengan Allah tetapi jahat dengan sesama manusia, maka nasibnya dilemparkan ke dalam neraka.
Nabi Musa AS berkata dan bertanya kepada Allah SWT: “wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?”. Allah menjawab: “ Shalatmu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan shalat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Puasamu itu melatih dirimu untuk mengendalikan hawa nafsu. Dzikirmu itu membuat hatimu tenang.” Nabi Musa bertanya lagi: “Lalu ibadahku yang membuat Engkau senang yang mana, ya Allah ?” Allah menjawab: “Shadaqah, infaq, zakat dan akhlakul karimah. Itulah yang membuat Aku senang. Karena tatkala engkau membahagiakan orang lain yang sedang susah, Aku hadir di sampingnya dan Aku akan menggantinya dengan ganjaran 700 kali lipat.” (QS. Al- baqarah: 261- 262)
“Bila engkau sibuk dengan ibadah ritual saja dan bangga akan itu, itu tandanya engkau hanya mencintai dirimu saja, bukan Allah. Tapi bila engkau berbuat dan berkorban untuk orang lain serta melunakkan hatimu kepada orang lain maka itu tandanya engkau mencintai Allah, dan tentu Allah senang kepadamu. Buatlah Allah senang, maka Allah akan melimpahkan rahmat –Nya kepadamu yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan.”
Hadirin…
Rasulullah SAW bersabda
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian disayangi oleh yang ada di langit (Allah dan para malaikat)
Jika kita memelihara ‘kebencian, dendam’, maka seluruh ‘waktu & pikiran’ yang kita miliki akan habis begitu saja, dan kita tidak akan pernah menjadi ‘orang yang produktif, baik produktif dalam arti melahirkan karya maupun produktif dalam arti ibadah kepada Allah SWT. Kekurangan orang lain adalah ‘ladang pahala’ bagi kita untuk : memaafkannya, mendoakannya, memperbaikinya, dan menjaga aibnya. Bukan gelar, pang & jabatan yang menjadikan ‘orang menjadi mulia’, jika kualitas pribadi kita buruk. Semua itu hanyalah ‘topeng tanpa wajah. Tetapi akhlakul karimah yang akan menjadikan kita mulia. Baik akhlak kepada Allah dan lebih khusus terhadap sesama manusia.
Di Akhirat banyak orang yang kaget ketika ditimbang amalnya. Ternyata amal keburukannya begitu banyak sehingga Allah menenpatkannya ke dalam neraka. Ia pun bertanya: Ya Allah mengapa keburukanku  begitu banyak, padahal saya rajin beribadah kepadamu. Allah menjawab: Betul engkau banyak beribadah, tetapi engkau suka menghina orang lain, engkau suka ghibah, fitnah serta berbuat dzalim terhadap sesama. Maka pahalamu diserahkan kepada orang yang engkau dzalimi dan dosa orang lain diserahkan kepadamu.
Sebaliknya ada orang yang kaget begitu melihat pahala amalnya kebaikannya begitu banyak. Ya Allah waktu di dunia saya biasa saja, bukan kiyai,buka ulama, tetapi kok pahala saya begitu banyak. Allah menjawab: Ya betul. Engkau waktu di dunia banyak digunjing orang, difitnah, dihina. Tapi engkau selalu memaafkan kesalahan orang lain dengan ikhlas. Maka engkau mendapatkan banyak pahala. Tempatmu di surga.
Keshalehan sosial telah membawa manusia kepada derajat yang tinggi di hadapan Allah SWT, sehingga Allah SWT memberikan penghargaan yang tinggi pula.
Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan ummatnya, ia melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS: “Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Sorga-Nya?. Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT.”
Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu, lalu Nabi Musa AS bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana ummatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan menempatkannya di dasar neraka-Ku yang paling dalam". Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya.
Ahli ibadah itu sangat terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS. Malam harinya ahli ibadah itu terus merenung mengenai keadaan dirinya. Ia juga terus berfikir bagai mana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat. Ia pun sangat khawatir tidak saja tentang dirinya tetapi tentang bagaimana nasib orang lain kelak di akhirat
Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke dalam Neraka-Nya, akan tetapi ada satu permohonanku. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya agar seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku, sehingga tidak akan ada seorang pun akan masuk ke neraka". Nabi Musa AS menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepada ummatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di Surga-Ku yang paling tinggi".
Rupanya kepedulian kepada orang lain yang menyebabkan orang tua ahli ibadah tersebut masuk ke dalam syurga. Subhanallah
Maka Rasulullah SAW menegaskan:
خَيْرُالنَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik- baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia

Jika kita belum bisa membagikan harta atau kekayaan’, maka bagikanlah ‘contoh kebaikan’ karena hal itu akan ‘menjadi tauladan bagi siapapun. Pastikan kita sudah berbuat kebaikan hari ini, Baik dengan materi, ilmu, tenaga, atau minimal dengan enyuman yang tulus yang menjadikan orang lain senang. Bila kita belum dapat membahagiakan orang, janganlah kita menyakitinya baik dgn perkataan maupun perbuatan
Keshalehan sosial kita adalah dengan banyak memberi kepada sesama, banyak menolong, bershilaturrahim dan tentunya akhlakul karimah

Kita memang diharuskan untuk menjalin dua hubungan dengan sebaik- baiknya, yaitu hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Allah SWT berfirman
ôMt/ÎŽàÑ ãNÍköŽn=tã èp©9Ïe%!$# tûøïr& $tB (#þqàÿÉ)èO žwÎ) 9@ö6pt¿2 z`ÏiB «!$# 9@ö6ymur z`ÏiB Ĩ$¨Y9$#
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.” (QS. Ali Imran: 112)
            Orang yang hanya baik dengan Allah tapi buruk dengan manusia adalah orang yang bangkrut. Sedangkan orang yang hanya baik dengan manusia tapi buruk dengan Allah adalah manusia yang sia- sia. Janganlah kita menjadi manusia yang bangkrut maupun manusia yang sia- sia. Tapi jadilah orang yang berharga, berguna dan berbahagia.

Jakarta, 07 Agustus 2016
PENGAJIAN AHAD PAGI
MAJELIS TA’LIM KAUM IBU
Masjid Nurul Iman Kementan